Selasa, 11 Februari 2014

metode bermain menggunakan media puzzle



BAB I
Pendahuluan
A.    Latar belakang masalah
Pendidikan anak usia dini (PAUD) mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan terus bertambahnya jumlah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), kelompok bermain (KB), tempat penitipan anak (TPA), dan PAUD sejenis lainnya dengan nama yang bervariasi banyak bermunculan, hal ini sebagai bukti meningkatnya kesadaran orang tua dan guru tentang pentingnya pendidikan anak usia dini.[1]
Banyak orang tua maupun guru telah memahami pentingnya masa emas (golden age) perkembangan pada usia dini. Sebagai masa penting, masa sensitifnya semua potensi yang dimiliki untuk berkembang. Untuk itu, perlu dukungan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan potensi yang dimiliki anak. Namun, pemahaman ini belum dimiliki secara komprehensif. Akibatnya, muncul dampak baru terhadap PAUD di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non-formal dan juga PAUD informal (pendidikan anak dalam keluarga).[2]
Persepsi tentang pentingnya golden age, yaitu 80% kapasitas perkembangan dicapai pada usia dini (lahir sampai delapan tahun), sedangkan selebihnya (20%) diperoleh setelah delapan tahun belum tepat dan benar. Akibatnya, banyak orang tua dan guru berlomba dengan waktu untuk memberikan pengalaman belajar melalui “kegiatan atau pembelajaran akademik”. Hampir keseluruhan waktu belajar anak dilakukan melaui “kegiatan akademik”. Guru mengajar dengan menjelaskan anak belajar melalui mendengarkan dan mengerjakan tugas yang didominasi lembar atau buku kerja anak. Anak menulis angka dan huruf/kata tanpa membangun konteks belajar terlebih dahulu. Dalam situasi ini, aspek kognitif atau intelektual memperoleh situasi terbesar, sedang aspek lainnya, seperti emosi sosial, dan seni hampir diabaikan.[3]
Persepsi yang belum tepat dan benar tentang golden age perkembangan masa usia dini mengakibatkan bermain terabaikan. Sebenarnya, bermain sebagai salah satu kebutuhan dasar pengembangan anak. Kalau kebutuhan bermain belum terpenuhi anak akan kesulitan mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena itu, kegiatan belajar perlu dikemas dalam kegiatan bermain dan melalui kegiatan bermain. Bermain juga belum digunakan  sebagai strategi atau “kendaraan” belajar anak.[4]
Pelaksanaan pembelajaran pada AUD yang lebih terfokus pada “kegiatan akademik” dan mengabaikan kegiatan bermain sebagai suatu praktik PAUD yang keliru. Bermain bukan hanya sebagai “kendaraan” belajar anak, bermain sebagai salah satu kebutuhan perkembangan anak. Situasi kelas yang menunjukkan adanya masalah, seperti anak TK tidak mau berbagi minuman bukan hanya karena anak sangat suka dengan permainan ini, tetapi dapat disebabkan tahap perkembangan anak belum sampai ke bermain bersama walaupun usia kalendernya telah menunjukkan anak telah berada pada tahap perkembangan bermain bersama. Masalah ini dapat disebabkan karena kegiatan bermain yang diperoleh anak sangat minim. Masalah ini juga bisa menjadi salah satu keluhan yang banyak dialami guru di PAUD, TK, RA, KB.[5]
Sebenarnya, banyak pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di lembaga PAUD. Pendekatan, model, dan metode yang dikemukakan oleh filsuf, seperti pendidikan model frobel, montessori, dan lainnya sebagai model yang dapat diterapkan atau dimodofikasi dan dikembangkan sehingga sesuai untuk diterapkan di PAUD. [6]
Perlu kejelian guru dalam melakukan pemilihan atau pengembangan pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Pemahaman guru tentang model-model PAUD akan mewarnai pemilihan atau pengembangan pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang digunakan untuk anak usia dini. Untuk ini, guru perlu memahami berbagai model-model PAUD meliputi aspek filosofi dan teori dari setiap model, bagaimana pendekatan, model, dan metode pembalajaran setiap model pendidikan tentang anak usia dini.[7]
Anak didik (anak usia dini) menduduki posisi penting dan sebagai acuan utama dalam pemilihan pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Hal yang perlu diingat dari sisi anak adalah PAUD bukan sekedar mempersiapkan anak untuk bisa masuk sekolah dasar. Fungsi PAUD yang sebenarnya yaitu membantu mengembangkan semua potensi anak (fisik, bahasa, kognitif, emosi, sosial, moral, dan agama) dan meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.[8]
Dalam penyelenggaraan pendidikan metode pembelajaran ada berbagai metode yang dilakukan oleh para pendidik. Diantaranya adalah metode belajar sambil bermain ataupun bermain sambil belajar. Yang pada hakikatnya dua macam metode tersebut sama-sama saling mendukung dalam proses anak didik.
Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian peserta didik, psikolog, filssuf, dan banyak orang lagi selama beberapa dekade yang lalu mereka tertantang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Bermain benar-benar merupakan pengertian yang sangat sulit dipahami karena muncul dalam beraneka ragam bentuk. Bermain itu sendiri bukan hanya tampak pada tingkah laku anak tetapi pada usia dewasa bahkan bukan hanya pada manusia.
Pada umumnya dalam proses pendidikan pada anak balita atau usia dini lebih diutamakan pada metode bermain sambil belajar. Hal ini dilakukan karena metode ini lebih sesuai dengan usia anak-anak yang cenderung lebih suka bermain. Maka para pendidik memanfaatkan hal ini untuk mendidik mereka dengan cara bermain sambil belajar yaitu disamping mereka bermain, mereka sekaligus mengasah keterampilan dan kemampuan. Cara ini akan lebih berkesan dalam memori internal anak-anak untuk perkembangan pengetahuannya karena pada usia dini adalah masa-masa perkembangan memori otak sangat pesat.
Bermain bagi anak merupakan bekerja bagi orang dewasa. Ada anak-anak yang bermain dengan patut, namun ada juga yang bermain dengan cukup berbahaya, mereka melakukan sebagai anak-anak. Peran pendidikanlah untuk mengawal bagaimana permainan dapat menumbuh kembangkan mereka secara patut dan sebagai anak manusia.
Bermain adalah cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melaui keterampilan yang ada. Permainan disesuaikan dengan perkembangan anak, permainan yang digunakan anak-anak merupakan permainan yang merangsang kreatifitas anak dan menyenangkan. Untuk bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok dalam pembelajaran pada tingkat anak-anak “Depdiknas, 2006”.
Anak-anak senantiasa tumbuh dan berkembang, mereka menampilkan ciri-ciri fisik psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak merupakan masa puncak kreatifitasnya, dan kreatifitasnya perlu tetap dijaga dan dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreatifitas yaitu melalui bermain. Oleh karena itu, pendidikan pada tingkat anak-anak yang menekankan bermain sambil belajar dapat mendorong anak untuk mengekuarkan semua daya kretifitasnya.
Seluruh potensi kecerdasan anak akan berkembang optimal apabila disirami suasana penuh kasih sayang dan jauh dari berbagai tindak kekerasan, sehingga anak-anak dapat bermain dengan gembira. Oleh karena itu, kegiatan belajar yang efektif pada anak-anak dilakukan melalui cara-cara bermain aktif yang menyenangkan, dan interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan emosional, bukan teori akademik.
Dari berbagai macam permainan, ada permainan yang cukup menarik minat anak-anak ketika memainkannya. Yaitu permainan PUZZLE. Puzzle terdiri dari kepingan-kepingan yang dapat dibuat dari karton, busa, karet, kayu, tripleks, plastik, maupun sterofoam. Bermain puzzle adalah kegiatan membongkar dan menyusun kembali kepingan puzzle menjadi bentuk utuh. Kegiatan ini bertujuan melatih koordinasi mata, tangan dan pikiran anak dalam menyusun kepingan puzzle yang terdiri dari bentuk yang berbeda dan memcocokkan potongan gambar satu dengan yang lainnya sehingga membentuk satu gambar yang utuh dan baik.
Permainan puzzle atau kata lain bisa disebut permainan edukasi, adalah upaya membiarkan anak berkembang dengan sendirinya dalam permainan yang sedang dimainkannya. Dengan bermain puzzle, anak tidak hanya mendapatkan hal baru dalam bermain. Banyak stimulasi yang akan direspon anak dalam bermain puzzle. Anak-anak mencoba memecahkan masalahnya dengan mencoba menyatukan gambar yang berkeping-keping menjadi suatu gambar yang utuh. Anak-anak belajar mengendalikan emosionalnya dengan melatih kesabarannya untuk menyatukan gambar tersebut. Imajinasi visual seorang anak akan dituntut melalui pengalamannya dari kehidupan nyata, misalnya, letak-letak sebuah pohon, gunung, awan dan lain-lain sesuai dengan letak yang sesungguhnya. Perkembangan bahasa anak akan meningkat ketika anak menemukan gambar yang sangat asing baginya, dan anak akan mencari tahu tentang gambar yang tidak diketahuinya guna menyelesaikan permainannya, dari situlah anak-anak akan menemukan bahasa baru sehingga menambah pengetahuan kosa kata.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik mengangkat permasalahan tersebut untuk dilakukan penelitian dengan judul
B.       Fokus penelitian
Dengan seiring berkembangnnya perhatian, model, dan berbagai pendekatan dalam metode bermain yang telah diterapkan, dan menyadari keterbatasan peneliti, maka fokus penelitian karya ilmiah ini adalah: Upaya Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Permainan Puzzle Huruf di TK Dharma Wanita Mendalo Darat.
C.      Pertanyaan penelitian
Berangkat dari apa yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah, Adapun pertanyaan penelitian sebagai acuan yang akan dibahas dari karya ilmiah ini adalah:
1.      Apa pengertian bermain bagi anak usia dini?
2.      Bagaimana menerapkan permainan puzzle yang tepat bagi perkembangan  anak usia dini?
3.      Bagaimana efektifitas permainan puzzle bagi pendidikan anak usia dini?
D.      Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan peneliti dalam karya ilmiah ini selain turut mengembangkan metode bermain khususnya menerapkan dalam bermain menggunakan PUZZLE dalam mendidik anak usia dini serta meneliti pengaruhnya bagi perkembangan anak-anak di TK Dharma Wanita Mendalo Darat. adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui pengertian bermain bagi anak usiadini.
2.    Mengetahui cara menerapkan metode bermain yang benar bagi anak usia dini.
3.    Mengetahui pengaruh metode bermain terhadap perkembangan anak usia dini.
E.       Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dilakukan peneliti dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.      Memperdalam pengetahuan arti bermain bagi anak usia dini.
2.      Lebih mengetahui karakteristik metode bermain yang baik bagi anak usia dini.
3.      Mengetahui dampak metode bermain bagi anak usia dini.

BAB II
Kajian pustaka
            Kamus besar bahasa indonesia (2007:17) mendefinisikan kata pembelajaran berasal dari kata ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau diturut, sedangkan  pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan urang atau makhluk hidup belajar. Menurut kimble dan Garmezy dalam pringgawidagda, pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang. Pembelajaran memiliki makna bahwa subjek belajar harus dibelajarkan bukan diajarkan. Subjek belajar yang dimaksud adalah siswa atau disebut juga pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar. Siswa sebagai subjek belajar dituntut untuk aktif mencari, menemukan, menganalisis, merumuskan, memecahkan masalah, dan menyimpulkan suatu masalah.[9]
            Pembelajaran membutuhkan sebuah proses yang disadari yang cenderung bersifat permanen dan mengubah perilaku. Pada proses tersebut terjadi proses pengingatan informasi yang kemudian disimpan dalam memori dan organisasi kognitif. Selanjutnya, keterampilan tersebut diwujudkan secara praktis pada keaktifan siswa dalam merespon dan bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri siswa ataupun lingkungannya.[10]
            Hilgard dan Bower, belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannyayang berulang-ulang dalam situasi itu, perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons bawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat misalnya: kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya.[11]
            Gagne, belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sehingga perbuatannya berubah dari waktu ke waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.[12]
            Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[13]
            Witherington, belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.[14]
            Traversi, belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku.[15] Kegiatan belajar digolongkan menjadi belajar gerakan, belajar pengetahuan, dan belajar pemecahan masalah. Adapula yang menggolongkan kegiatan belajar menjadi belajar informasi, belajar konsep, belajar prinsip, belajar keterampilan, dan belajar sikap.[16]
            Adapun ciri khas  dalam metode bermain adalah membiarkan anak /peserta didik berkembang dengan sendirinya sesuai kebutuhannya, seiring dengan ciri tersebut telah tertera pada pasal 1 ayat1 Undang-Undang nomor 20; tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[17]
            Sejak 600 tahun Sebelum masehi, para filosof zaman pra-socrates telah menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha manusia untuk menjadi manusia. [18] membentuk perilaku manusia, membentuk watak manusia sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Membentuk manusia tanpa tekanan, mendidik manusia tanpa kekerasan lebih diutamakan agar terbentuk perilaku manusia sejati.
Pendapat Hildebrand “bahwa proses belajar mengajar anak lebih ditekankan pada berbuat daripada mendengarkan ceramah, maka mengajar anak itu lebih merupakan pemberian bahan-bahan dan aktivitas sedemikian rupa sehingga anak belajar menurut pengalamannya sendiri dan membuat kesimpulan dengan pikirannya sendiri.
Menurut kimpraswil “permainan adalah usaha olah diri yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan perkembangan motivasi, kinerja, dan prestasi dalam melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik.
Menurut Hans Daeng “ permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak dan permainan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak.
Puzzle secara bahasa indonesia diartikan sebagai tebakan. Tebakan adalah sebuah masalah atau “enigma” yang diberikan sebagai hiburan yang biasa ditulis atau dilakukan.


BAB III
Metode Penelitian
A.                Pendekatan dan metode
Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti kegiatan proses belajar mengajar yang melalui metode bermain puzzle di TK Dharma Wanita Mendalo Darat. sehingga mendapatkan informasi tepat yang berkenaan dengan tujuan penelitian yang dilakukan di TK Dharma Wanita Mendalo Darat.
B.                 Latar dan entri penelitian

C.                Kehadiran peneliti
Dalam melakukan penelitian, peneliti mendatangi lokasi penelitian, dan menggali jawaban permasalahan langsung dari informan yang telah ditentukan oleh peneliti. Peneliti mendatangi lokasi penelitian dua kali dalam seminggu ketika proses pembelajaran sedang berlangsung,dan dilakukan secara terus menerus, dan dilakukan secara rutin guna mendalami situasi lokasi penelitian untuk memudahkan peneliti mencari jawaban yang akan diteliti.
D.                Teknik pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan peneliti yaitu melalui teknik observasi yang dikumpulkan  melalui wawancara kepada guru pengajar, dan murid TK Dharma Wanita Mendalo Darat.
E.                 Informan penelitian
Untuk mendapatkan jawaban yang valid dalam penelitian ini, peneliti menggali informasi yang mendalam dari berbagai sumber masi yang mendalam dari berbagai sumber yang sangat terkait di tempat penelitian. Berikut peneliti menggambarkan informan penelitian dalam bentuk snowball agar mudah difahami oleh pembaca. Adapun informan yang dituju peneliti adalah sebagai berikut:
                                                                          Guru kelas
Peneliti     ...........    kepala sekolah                                                  murid
                                                                         
F.                 Teknik analisa data
Setelah data terkumpul, maka data tersebut di analisis melalui beberapa cara yaitu: 
1.      Analisis domain
      Analisis domain ini dilakukan untuk memperoleh gambaran atau suatu pengertian yang bersifat global dan relatifmenyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu pokok permasalahan yang  tengah diselidiki atau di teliti ( faisal, 1990 : 91) 
      Analisis ini digunakan untuk menganalisa letak geografis, struktur organisasi sekolah yang sedang di teliti. 
2.      Analisis taksonomi
      Pada analisis ini pokus penelitian di tetapkan tebatas pada domain tertentu yang sangat berguna dalam upaya mendiskripsikan atau menjelaskan penomena yang menjadi sasaran semula penelitian ( faisal, 1990 : 98 ) 
3.      Analisis konponensian
      Yaitu analisis yang digunakan setelah peneliti mempunyai cukup banyak fakta atau informasi dan hasil wawancara atau informasi yang melacak domain. ( faisal, 1990 : 103 )
      Analisi ini digunakan untuk menganalisa data pokok permasalahan yaitu urgensi penggunaan metode bernyanyi dalam memotivasi belajar anak usia dini. 
4.      Analisis triangulasi
      Tringulasi adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang menempatkan sesuatu yang lain, dilihat data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pendukung pembanding terhadap data itu ( moleong, 1995 : 178 )
      Tekhnik pemeriksaan data yang akan penulis pakai dalam penalitian ini adalah triangulasi dengan sumber potton, sebagaiman dikutip oleh Dr. Lexy. J. Moleong (1995), tringulasi sebagai sumber adalah tekhnik pemeriksaan data dengan membandingkan data dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda, hal inidapat dicapai dengan jalan :
a.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b.      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
c.       Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah dan tinggi, orang pemerintah, dan lain-lain
d.      Membandingkan apa yang dikatakan orang dalam situasi penelitian dengan di katakannnya sepanjang waktu 
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan dari dokumen yang berkaitan
Untuk menganalisa data penulis peroleh dari lapangan, penulis akan menempuh cara-cara tersebut di atas dengan membandingkan berbagai peristiwa dan informasi untuk memperoleh data yang akurat.
G.                Teknik penjamin keabsahan data
Untuk menjamin keabsahan hasil penelitian, maka peneliti menggali dari sumber-sumber yang dapat memberikan asumsi yang besar terhadap penelitian ini. Sehingga peneliti mendapatkan jawaban yang tepat dari penelitian ini.
Demi mendapatkan jawaban yang tepat atas penelitian ini, oleh karena itu peneliti langsung menggali pada sumber yang berkaitan langsung dengan apa yang diteliti.

H.                Jadwal pelaksanaan penelitian
Dalam meneliti permasalahan yang dibahas peneliti, maka peneliti menyusun jadwal penelitian sebagai proses pemerolehan hasil penelitian. Berikut jadwal penelitian yang telah disusun peneliti:
NO
KEGIATAN
BULAN
1
2
3
4
5
6
7
8
1
Penyusuna proposal








2
Diskusi proposal








3
Memasuki lapangan, grand tour dan monitor qustion, analisis domain








4
Menentukan fokus, monitor question, analisis taksonomi.








5
Tahap selection, struktural question, analisis komponensial.








6
Menentukan tema, analisis tema.








7
Uji keabsahan data








8
Membuat draft laporan penelitian.








9
Diskusi draft laporan








10
Penyempurnaan laporan








 

[1] Yus Anita, model pendidikan anak usia dini, (kencana, jakarta: 2011), hlm. ix
[2] Ibid,. Hlm. ix.
[3] Ibid,. Hlm. x.
[4] Ibid,. Hlm. x.
[5] Ibid,. Hlm. x.
[6] Ibid,. Hlm. xi.
[7] Ibid,. Hlm. xi.
[8] Ibid,. Hlm. xii.
[9] Muhammad Thobroni, dkk, belajar dan pembelajaran, (ar-ruzz media, yogyakarta: 2011), hlm. 18.
[10] Ibid,. Hlm. 19.
[11] Ibid,. Hlm. 19-20.
[12] Ibid,. Hlm. 20.
[13] Ibid,. Hlm. 20.
[14] Ibid,. Hlm. 20.
[15] Ibid,. Hlm. 20.
[16] Ibid,. Hlm. 25
[17] Bashori muchsin dkk, pendidikan islam humanistik, (revika aditama, bandung: 2010), hlm. 2.
[18] Ibid,. Hlm. 3