BAB I
Pendahuluan
A.
Latar belakang
masalah
Pendidikan anak usia dini (PAUD) mengalami perkembangan yang sangat
pesat, hal ini ditandai dengan terus bertambahnya jumlah lembaga pendidikan
anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), kelompok
bermain (KB), tempat penitipan anak (TPA), dan PAUD sejenis lainnya dengan nama
yang bervariasi banyak bermunculan, hal ini sebagai bukti meningkatnya
kesadaran orang tua dan guru tentang pentingnya pendidikan anak usia dini.[1]
Banyak orang tua maupun guru telah memahami pentingnya masa emas (golden
age) perkembangan pada usia dini. Sebagai masa penting, masa sensitifnya
semua potensi yang dimiliki untuk berkembang. Untuk itu, perlu dukungan
lingkungan yang kondusif bagi perkembangan potensi yang dimiliki anak. Namun,
pemahaman ini belum dimiliki secara komprehensif. Akibatnya, muncul dampak baru
terhadap PAUD di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non-formal dan juga PAUD
informal (pendidikan anak dalam keluarga).[2]
Persepsi tentang pentingnya golden age, yaitu 80% kapasitas
perkembangan dicapai pada usia dini (lahir sampai delapan tahun), sedangkan
selebihnya (20%) diperoleh setelah delapan tahun belum tepat dan benar.
Akibatnya, banyak orang tua dan guru berlomba dengan waktu untuk memberikan
pengalaman belajar melalui “kegiatan atau pembelajaran akademik”. Hampir
keseluruhan waktu belajar anak dilakukan melaui “kegiatan akademik”. Guru
mengajar dengan menjelaskan anak belajar melalui mendengarkan dan mengerjakan
tugas yang didominasi lembar atau buku kerja anak. Anak menulis angka dan
huruf/kata tanpa membangun konteks belajar terlebih dahulu. Dalam situasi ini,
aspek kognitif atau intelektual memperoleh situasi terbesar, sedang aspek
lainnya, seperti emosi sosial, dan seni hampir diabaikan.[3]
Persepsi yang belum tepat dan benar tentang golden age perkembangan
masa usia dini mengakibatkan bermain terabaikan. Sebenarnya, bermain sebagai
salah satu kebutuhan dasar pengembangan anak. Kalau kebutuhan bermain belum
terpenuhi anak akan kesulitan mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena
itu, kegiatan belajar perlu dikemas dalam kegiatan bermain dan melalui kegiatan
bermain. Bermain juga belum digunakan
sebagai strategi atau “kendaraan” belajar anak.[4]
Pelaksanaan pembelajaran pada AUD yang lebih terfokus pada “kegiatan
akademik” dan mengabaikan kegiatan bermain sebagai suatu praktik PAUD yang
keliru. Bermain bukan hanya sebagai “kendaraan” belajar anak, bermain sebagai
salah satu kebutuhan perkembangan anak. Situasi kelas yang menunjukkan adanya
masalah, seperti anak TK tidak mau berbagi minuman bukan hanya karena anak
sangat suka dengan permainan ini, tetapi dapat disebabkan tahap perkembangan
anak belum sampai ke bermain bersama walaupun usia kalendernya telah
menunjukkan anak telah berada pada tahap perkembangan bermain bersama. Masalah
ini dapat disebabkan karena kegiatan bermain yang diperoleh anak sangat minim.
Masalah ini juga bisa menjadi salah satu keluhan yang banyak dialami guru di
PAUD, TK, RA, KB.[5]
Sebenarnya, banyak pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang dapat
diterapkan di lembaga PAUD. Pendekatan, model, dan metode yang dikemukakan oleh
filsuf, seperti pendidikan model frobel, montessori, dan lainnya sebagai model
yang dapat diterapkan atau dimodofikasi dan dikembangkan sehingga sesuai untuk
diterapkan di PAUD. [6]
Perlu kejelian guru dalam melakukan pemilihan atau pengembangan
pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Pemahaman guru tentang model-model
PAUD akan mewarnai pemilihan atau pengembangan pendekatan, model, dan metode pembelajaran
yang digunakan untuk anak usia dini. Untuk ini, guru perlu memahami berbagai
model-model PAUD meliputi aspek filosofi dan teori dari setiap model, bagaimana
pendekatan, model, dan metode pembalajaran setiap model pendidikan tentang anak
usia dini.[7]
Anak didik (anak usia dini) menduduki posisi penting dan sebagai acuan
utama dalam pemilihan pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Hal yang
perlu diingat dari sisi anak adalah PAUD bukan sekedar mempersiapkan anak untuk
bisa masuk sekolah dasar. Fungsi PAUD yang sebenarnya yaitu membantu
mengembangkan semua potensi anak (fisik, bahasa, kognitif, emosi, sosial,
moral, dan agama) dan meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan,
keterampilan, dan daya cipta untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.[8]
Dalam penyelenggaraan pendidikan metode pembelajaran ada berbagai metode
yang dilakukan oleh para pendidik. Diantaranya adalah metode belajar sambil
bermain ataupun bermain sambil belajar. Yang pada hakikatnya dua macam metode
tersebut sama-sama saling mendukung dalam proses anak didik.
Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian peserta
didik, psikolog, filssuf, dan banyak orang lagi selama beberapa dekade yang lalu
mereka tertantang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah
laku manusia. Bermain benar-benar merupakan pengertian yang sangat sulit
dipahami karena muncul dalam beraneka ragam bentuk. Bermain itu sendiri bukan
hanya tampak pada tingkah laku anak tetapi pada usia dewasa bahkan bukan hanya
pada manusia.
Pada umumnya dalam proses pendidikan pada anak balita atau usia dini
lebih diutamakan pada metode bermain sambil belajar. Hal ini dilakukan karena
metode ini lebih sesuai dengan usia anak-anak yang cenderung lebih suka
bermain. Maka para pendidik memanfaatkan hal ini untuk mendidik mereka dengan
cara bermain sambil belajar yaitu disamping mereka bermain, mereka sekaligus
mengasah keterampilan dan kemampuan. Cara ini akan lebih berkesan dalam memori
internal anak-anak untuk perkembangan pengetahuannya karena pada usia dini
adalah masa-masa perkembangan memori otak sangat pesat.
Bermain bagi anak merupakan bekerja bagi orang dewasa. Ada anak-anak yang
bermain dengan patut, namun ada juga yang bermain dengan cukup berbahaya,
mereka melakukan sebagai anak-anak. Peran pendidikanlah untuk mengawal
bagaimana permainan dapat menumbuh kembangkan mereka secara patut dan sebagai
anak manusia.
Bermain adalah cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak
sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses informasi
mengenai hal-hal baru dan berlatih melaui keterampilan yang ada. Permainan
disesuaikan dengan perkembangan anak, permainan yang digunakan anak-anak
merupakan permainan yang merangsang kreatifitas anak dan menyenangkan. Untuk
bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok dalam
pembelajaran pada tingkat anak-anak “Depdiknas, 2006”.
Anak-anak senantiasa tumbuh dan berkembang, mereka menampilkan ciri-ciri
fisik psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak
merupakan masa puncak kreatifitasnya, dan kreatifitasnya perlu tetap dijaga dan
dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreatifitas yaitu
melalui bermain. Oleh karena itu, pendidikan pada tingkat anak-anak yang
menekankan bermain sambil belajar dapat mendorong anak untuk mengekuarkan semua
daya kretifitasnya.
Seluruh potensi kecerdasan anak akan berkembang optimal apabila disirami
suasana penuh kasih sayang dan jauh dari berbagai tindak kekerasan, sehingga
anak-anak dapat bermain dengan gembira. Oleh karena itu, kegiatan belajar yang
efektif pada anak-anak dilakukan melalui cara-cara bermain aktif yang
menyenangkan, dan interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan emosional,
bukan teori akademik.
Dari berbagai macam permainan, ada permainan yang cukup menarik minat
anak-anak ketika memainkannya. Yaitu permainan PUZZLE. Puzzle terdiri dari kepingan-kepingan
yang dapat dibuat dari karton, busa, karet, kayu, tripleks, plastik, maupun
sterofoam. Bermain puzzle adalah kegiatan membongkar dan menyusun kembali
kepingan puzzle menjadi bentuk utuh. Kegiatan ini bertujuan melatih koordinasi
mata, tangan dan pikiran anak dalam menyusun kepingan puzzle yang terdiri dari
bentuk yang berbeda dan memcocokkan potongan gambar satu dengan yang lainnya
sehingga membentuk satu gambar yang utuh dan baik.
Permainan puzzle atau kata lain bisa disebut permainan edukasi, adalah
upaya membiarkan anak berkembang dengan sendirinya dalam permainan yang sedang
dimainkannya. Dengan bermain puzzle, anak tidak hanya mendapatkan hal baru
dalam bermain. Banyak stimulasi yang akan direspon anak dalam bermain puzzle.
Anak-anak mencoba memecahkan masalahnya dengan mencoba menyatukan gambar yang
berkeping-keping menjadi suatu gambar yang utuh. Anak-anak belajar
mengendalikan emosionalnya dengan melatih kesabarannya untuk menyatukan gambar
tersebut. Imajinasi visual seorang anak akan dituntut melalui pengalamannya
dari kehidupan nyata, misalnya, letak-letak sebuah pohon, gunung, awan dan
lain-lain sesuai dengan letak yang sesungguhnya. Perkembangan bahasa anak akan
meningkat ketika anak menemukan gambar yang sangat asing baginya, dan anak akan
mencari tahu tentang gambar yang tidak diketahuinya guna menyelesaikan
permainannya, dari situlah anak-anak akan menemukan bahasa baru sehingga
menambah pengetahuan kosa kata.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik mengangkat
permasalahan tersebut untuk dilakukan penelitian dengan judul
B.
Fokus penelitian
Dengan seiring
berkembangnnya perhatian, model, dan berbagai pendekatan dalam metode bermain
yang telah diterapkan, dan menyadari keterbatasan peneliti, maka fokus
penelitian karya ilmiah ini adalah: Upaya Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak
Melalui Permainan Puzzle Huruf di TK Dharma Wanita Mendalo Darat.
C.
Pertanyaan
penelitian
Berangkat dari apa yang
telah dikemukakan pada latar belakang masalah, Adapun pertanyaan penelitian sebagai
acuan yang akan dibahas dari karya ilmiah ini adalah:
1.
Apa pengertian bermain bagi
anak usia dini?
2.
Bagaimana menerapkan
permainan puzzle yang tepat bagi perkembangan
anak usia dini?
3.
Bagaimana efektifitas
permainan puzzle bagi pendidikan anak usia dini?
D.
Tujuan penelitian
Adapun tujuan
penelitian yang dilakukan peneliti dalam karya ilmiah ini selain turut
mengembangkan metode bermain khususnya menerapkan dalam bermain menggunakan
PUZZLE dalam mendidik anak usia dini serta meneliti pengaruhnya bagi perkembangan
anak-anak di TK Dharma Wanita Mendalo Darat. adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui pengertian
bermain bagi anak usiadini.
2.
Mengetahui cara menerapkan
metode bermain yang benar bagi anak usia dini.
3.
Mengetahui pengaruh metode
bermain terhadap perkembangan anak usia dini.
E.
Manfaat penelitian
Adapun manfaat
penelitian yang dilakukan peneliti dalam karya ilmiah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Memperdalam pengetahuan
arti bermain bagi anak usia dini.
2.
Lebih mengetahui
karakteristik metode bermain yang baik bagi anak usia dini.
3.
Mengetahui dampak metode
bermain bagi anak usia dini.
BAB II
Kajian
pustaka
Kamus besar bahasa indonesia (2007:17)
mendefinisikan kata pembelajaran berasal dari kata ajar yang
berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau diturut,
sedangkan pembelajaran berarti
proses, cara, perbuatan menjadikan urang atau makhluk hidup belajar. Menurut
kimble dan Garmezy dalam pringgawidagda, pembelajaran adalah suatu perubahan
perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang.
Pembelajaran memiliki makna bahwa subjek belajar harus dibelajarkan bukan
diajarkan. Subjek belajar yang dimaksud adalah siswa atau disebut juga
pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar. Siswa sebagai subjek belajar dituntut
untuk aktif mencari, menemukan, menganalisis, merumuskan, memecahkan masalah,
dan menyimpulkan suatu masalah.[9]
Pembelajaran membutuhkan sebuah
proses yang disadari yang cenderung bersifat permanen dan mengubah perilaku.
Pada proses tersebut terjadi proses pengingatan informasi yang kemudian
disimpan dalam memori dan organisasi kognitif. Selanjutnya, keterampilan
tersebut diwujudkan secara praktis pada keaktifan siswa dalam merespon dan
bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri siswa ataupun
lingkungannya.[10]
Hilgard dan Bower, belajar
berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu
yang disebabkan oleh pengalamannyayang berulang-ulang dalam situasi itu,
perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons
bawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat misalnya: kelelahan, pengaruh
obat, dan sebagainya.[11]
Gagne, belajar terjadi apabila
suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sehingga
perbuatannya berubah dari waktu ke waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke
waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.[12]
Morgan, belajar adalah setiap
perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman.[13]
Witherington, belajar adalah
suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola
baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau
suatu pengertian.[14]
Traversi, belajar adalah
proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku.[15]
Kegiatan belajar digolongkan menjadi belajar gerakan, belajar pengetahuan, dan
belajar pemecahan masalah. Adapula yang menggolongkan kegiatan belajar menjadi
belajar informasi, belajar konsep, belajar prinsip, belajar keterampilan, dan
belajar sikap.[16]
Adapun ciri khas dalam metode bermain adalah membiarkan anak
/peserta didik berkembang dengan sendirinya sesuai kebutuhannya, seiring dengan
ciri tersebut telah tertera pada pasal 1 ayat1 Undang-Undang nomor 20; tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa: pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.[17]
Sejak 600 tahun Sebelum masehi, para
filosof zaman pra-socrates telah menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha
manusia untuk menjadi manusia. [18]
membentuk perilaku manusia, membentuk watak manusia sesuai dengan tujuan
penciptaan manusia. Membentuk manusia tanpa tekanan, mendidik manusia tanpa
kekerasan lebih diutamakan agar terbentuk perilaku manusia sejati.
Pendapat Hildebrand “bahwa proses belajar mengajar anak lebih ditekankan
pada berbuat daripada mendengarkan ceramah, maka mengajar anak itu lebih
merupakan pemberian bahan-bahan dan aktivitas sedemikian rupa sehingga anak
belajar menurut pengalamannya sendiri dan membuat kesimpulan dengan pikirannya
sendiri.
Menurut kimpraswil “permainan adalah usaha olah diri yang sangat
bermanfaat bagi peningkatan dan perkembangan motivasi, kinerja, dan prestasi
dalam melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik.
Menurut Hans Daeng “ permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak
dan permainan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian
anak.
Puzzle secara bahasa indonesia diartikan sebagai tebakan. Tebakan
adalah sebuah masalah atau “enigma” yang diberikan sebagai hiburan yang biasa
ditulis atau dilakukan.
BAB III
Metode
Penelitian
A.
Pendekatan dan
metode
Dalam penelitian ini,
peneliti akan meneliti kegiatan proses belajar mengajar yang melalui metode
bermain puzzle di TK Dharma Wanita Mendalo Darat. sehingga mendapatkan
informasi tepat yang berkenaan dengan tujuan penelitian yang dilakukan di TK
Dharma Wanita Mendalo Darat.
B.
Latar dan entri
penelitian
C.
Kehadiran peneliti
Dalam melakukan
penelitian, peneliti mendatangi lokasi penelitian, dan menggali jawaban
permasalahan langsung dari informan yang telah ditentukan oleh peneliti.
Peneliti mendatangi lokasi penelitian dua kali dalam seminggu ketika proses
pembelajaran sedang berlangsung,dan dilakukan secara terus menerus, dan dilakukan
secara rutin guna mendalami situasi lokasi penelitian untuk memudahkan peneliti
mencari jawaban yang akan diteliti.
D.
Teknik pengumpulan
data
Adapun teknik
pengumpulan data yang akan dilakukan peneliti yaitu melalui teknik observasi
yang dikumpulkan melalui wawancara
kepada guru pengajar, dan murid TK Dharma Wanita Mendalo Darat.
E.
Informan penelitian
Untuk mendapatkan
jawaban yang valid dalam penelitian ini, peneliti menggali informasi yang
mendalam dari berbagai sumber masi yang mendalam dari berbagai sumber yang
sangat terkait di tempat penelitian. Berikut peneliti menggambarkan informan
penelitian dalam bentuk snowball agar mudah difahami oleh pembaca.
Adapun informan yang dituju peneliti adalah sebagai berikut:
Guru kelas
Peneliti ........... kepala sekolah murid
F.
Teknik analisa data
Setelah data terkumpul, maka data tersebut di analisis
melalui beberapa cara yaitu:
1.
Analisis domain
Analisis domain ini dilakukan untuk
memperoleh gambaran atau suatu pengertian yang bersifat global dan
relatifmenyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu pokok permasalahan
yang tengah diselidiki atau di teliti (
faisal, 1990 : 91)
Analisis ini digunakan untuk menganalisa
letak geografis, struktur organisasi sekolah yang sedang di teliti.
2.
Analisis
taksonomi
Pada analisis ini pokus penelitian di
tetapkan tebatas pada domain tertentu yang sangat berguna dalam upaya
mendiskripsikan atau menjelaskan penomena yang menjadi sasaran semula
penelitian ( faisal, 1990 : 98 )
3.
Analisis
konponensian
Yaitu analisis yang digunakan setelah
peneliti mempunyai cukup banyak fakta atau informasi dan hasil wawancara atau
informasi yang melacak domain. ( faisal, 1990 : 103 )
Analisi ini digunakan untuk menganalisa
data pokok permasalahan yaitu urgensi penggunaan metode bernyanyi dalam
memotivasi belajar anak usia dini.
4.
Analisis
triangulasi
Tringulasi adalah tekhnik pemeriksaan
keabsahan data yang menempatkan sesuatu yang lain, dilihat data itu untuk
keperluan pengecekan atau sebagai pendukung pembanding terhadap data itu (
moleong, 1995 : 178 )
Tekhnik pemeriksaan data yang akan penulis
pakai dalam penalitian ini adalah triangulasi dengan sumber potton, sebagaiman
dikutip oleh Dr. Lexy. J. Moleong (1995), tringulasi sebagai sumber adalah
tekhnik pemeriksaan data dengan membandingkan data dan mengecek balik derajat
kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda,
hal inidapat dicapai dengan jalan :
a.
Membandingkan
data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b.
Membandingkan
apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
c.
Membandingkan
keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang,
seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah dan tinggi, orang
pemerintah, dan lain-lain
d.
Membandingkan
apa yang dikatakan orang dalam situasi penelitian dengan di katakannnya
sepanjang waktu
e.
Membandingkan
hasil wawancara dengan dari dokumen yang berkaitan
Untuk menganalisa data penulis peroleh dari lapangan,
penulis akan menempuh cara-cara tersebut di atas dengan membandingkan berbagai
peristiwa dan informasi untuk memperoleh data yang akurat.
G.
Teknik penjamin
keabsahan data
Untuk menjamin
keabsahan hasil penelitian, maka peneliti menggali dari sumber-sumber yang
dapat memberikan asumsi yang besar terhadap penelitian ini. Sehingga peneliti
mendapatkan jawaban yang tepat dari penelitian ini.
Demi mendapatkan
jawaban yang tepat atas penelitian ini, oleh karena itu peneliti langsung
menggali pada sumber yang berkaitan langsung dengan apa yang diteliti.
H.
Jadwal pelaksanaan
penelitian
Dalam meneliti
permasalahan yang dibahas peneliti, maka peneliti menyusun jadwal penelitian
sebagai proses pemerolehan hasil penelitian. Berikut jadwal penelitian yang
telah disusun peneliti:
NO
|
KEGIATAN
|
BULAN
|
|||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
||
1
|
Penyusuna proposal
|
||||||||
2
|
Diskusi proposal
|
||||||||
3
|
Memasuki lapangan, grand tour dan monitor qustion,
analisis domain
|
||||||||
4
|
Menentukan fokus, monitor question, analisis
taksonomi.
|
||||||||
5
|
Tahap selection, struktural question, analisis
komponensial.
|
||||||||
6
|
Menentukan tema, analisis tema.
|
||||||||
7
|
Uji keabsahan data
|
||||||||
8
|
Membuat draft laporan penelitian.
|
||||||||
9
|
Diskusi draft laporan
|
||||||||
10
|
Penyempurnaan laporan
|
||||||||
[1] Yus Anita, model
pendidikan anak usia dini, (kencana, jakarta: 2011), hlm. ix
[2] Ibid,. Hlm. ix.
[3] Ibid,. Hlm. x.
[4] Ibid,. Hlm. x.
[5] Ibid,. Hlm. x.
[6] Ibid,. Hlm. xi.
[7] Ibid,. Hlm. xi.
[8] Ibid,. Hlm. xii.
[9] Muhammad Thobroni, dkk, belajar
dan pembelajaran, (ar-ruzz media, yogyakarta: 2011), hlm. 18.
[10] Ibid,. Hlm. 19.
[11] Ibid,. Hlm. 19-20.
[12] Ibid,. Hlm. 20.
[13] Ibid,. Hlm. 20.
[14] Ibid,. Hlm. 20.
[15] Ibid,. Hlm. 20.
[16] Ibid,. Hlm. 25
[17] Bashori muchsin dkk, pendidikan
islam humanistik, (revika aditama, bandung: 2010), hlm. 2.
[18] Ibid,. Hlm. 3